Al-Qur’an Untuk Mengatasi Permasalahan Kaum Rebahan

Apakah saat ini kita merasa stuck dan seperti tak bisa menemukan penyelesaian atas masalah-masalah kita? Terjerat rasa malas dan otot disiplin yang kian mengendor? Masalah seperti itu bisa menjadi kronis jika kita tak juga bisa menyelesaikannya secara tuntas. Kita mengalami demotivasi, insecurity, fear of missing out, dan lain-lain perasaan yang mengganggu batin kita.

Perasaan-perasaan tersebut dapat menjangkiti kita kapan saja. Sebagai manusia biasa pasti ada saat-saat kita mengalaminya, apalagi di kalangan mayoritas usia pemuda yang masih berusaha menata hidup. Parahnya, dunia digital pada era ini, juga kehadiran media sosial, semakin melemahkan diri kita dengan serbuan konten, yang justru membuat kita tambah bingung saking banyaknya. Alhasil, kita terseret dalam barisan kaum rebahan yang hidupnya telah pindah ke dalam ponsel.

Kaum rebahan identik dengan sarkasme “tak memiliki kontribusi berarti bagi diri sendiri dan hanya menjadi beban keluarga”. Memang, sih, tidak semua orang yang suka rebahan masuk dalam kategori tersebut. Tapi berapa persenkah yang bisa membuat kebiasaan rebahan sebagai sarana menambah nilai diri? Rasionya tidaklah setara dengan mereka yang benar-benar terjebak dan semakin bingung mau bagaimana dengan hidupnya!

Solusinya? umat muslim telah menyediakan akses mudah yang bisa mengatasi masalah-masalah semacam itu. Kemudahan itu terpampang jelas di hadapan kita, yang sedihnya kita sering abai dan tak menyadarinya. Dialah Al-Qur’an. Kitab suci dengan mukjizat-mukjizat yang tak terbatas.

Baca juga nih: 20 Tempat Wisata Hits dan Terbaru di Brebes

Kita tahu sejarah Al-Qur’an sangatlah epik dan menggetarkan. Ia diturunkan dengan misi menjadi petunjuk kepada kebenaran, tombo hati, penjelasan terhadap berbagai persoalan, sebagai pengingat dan pemberi kabar gembira. Lihatlah betapa luhurnya misi tersebut!

Dalam surah Shad ayat 29, surah al-An’am ayat 92 dan 155, disebutkan bahwa al-Qur’an merupakan kitab yang diberkahi. Al-Isfahani (w. 502 H) dalam kitabnya Al-Mufradāt fī Gharīb al-Qur’ān, menjelaskan bahwa berkah/al-barakah adalah thubūt al-khayr al-Ilāhī fī shay’ (menetapnya kebaikan Allah pada sesuatu). Dalam Al-Qamus, Muhammad al-Husayni menerjemahkan al-barakah sebagai al-namā’ wa al-ziyādah (tumbuh dan bertambah), al-sa‘ādah (kebahagiaan), al-ni‘mah (kenikmatan).

Keberkahan al-Qur’an merupakan sesuatu yang berderajat tinggi, di mana untuk mendapatkannya ada syarat yang harus kita jalani, yaitu adanya interaksi kita dengannya. Bentuk interaksi tersebut adalah membaca, menghafalkan, memahami, mengajarkan dan menghayati isi al-Qur’an sehingga menyatu dengan kehidupan kita.

Intensitas interaksi ini perlahan akan menumbuhkan kecintaan kita pada al-Qur’an. Sebagaimana ketika kita sering bertemu seseorang, lama-lama akan tercipta keakraban dan secara alami tumbuh perasaan halus berupa cinta. Lebih lanjut, dalam proses interaksi ini juga disyaratkan dengan berniat mendapatkan berkah al-Qur’an, seperti yang diungkapkan oleh Abu Al-Muzaffar dengan yatabarruk bih (mengharap keberkahan dengannya) dan yaṭlub minhu al-khayr (mencari kebaikan darinya).

Dalam proses tersebut, saat kita mengawali langkah pertama yang dimulai dari bersuci, membuka mushaf dan mengucapkan ta’awudz serta berniat dalam hati, detik itu pula Allah langsung memberikan keberkahan pada kita, berupa “kelancaran” dalam membaca. Kelancaran di sini diartikan sebagai kemauan membaca walaupun misalnya kita masih terbata-bata.

Sebab, bisa dan mau membaca satu huruf saja dalam al-Qur’an pun sudah merupakan karunia yang begitu besar. Berapa banyak orang di luar sana yang mengaku muslim tapi benar-benar telah enggan membuka mushafnya? Maka bagi orang yang mau mengamalkan al-Qur’an biarpun baru sebatas membaca adalah sebuah keberuntungan yang besar. Hal itu berkorelasi positif dengan peran al-Qur’an sebagai dhikr mubarak.

Hal itu telah dijelaskan oleh Fahruddin ar-Razi dalam Mafatih al-Ghaib bahwa al-Qur’an menjadi dhikr yang mubārak karena Allah menurunkannya melalui malaikat yang memiliki keberkahan, di malam penuh keberkahan, yang disampaikan kepada Nabi yang memiliki keberkahan untuk umat yang diberkati. Bisa kita simpulkan bahwa barangsiapa berinteraksi dengan sesuatu yang memiliki keberkahan luar biasa, secara otomatis juga akan langsung menerima keberkahannya.

Salah satu faedah dan manfaat sebagai perwujudan berkah itu adalah mendapatkan ketenangan hati sebagaimana sabda Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Muslim, Tidaklah berkumpul suatu kaum dalam suatu majlis membaca kitab Allah kecuali turun pada mereka ketenangan dan diliputi rahmat dan dikerumuni oleh malaikat dan Allah akan menyebutkan mereka di hadapan para malaikatnya.”

Semakin kita meningkatkan interaksi kita dengan al-Qur’an, semakin banyak faedah dan manfaat yang bisa kita rasakan. Abū al-Layth Nasr bin Muḥammad menyebutkan dalam Bahr al-‘Ulum beberapa di antaranya yaitu: diampuni dosa, diberi rahmat, sa’aadah, dan mendapat keberhasilan. Sementara Abū Ḥasan ‘Alī Ibn Aḥmad dan Abū ‘Abdillāh Muḥammad bin ‘Umar menyebutkan faedah lainnya yaitu: yubashshir bi al-thawaab, menjauhkan dari kejelekan, keberkahan yang tak terhitung, dan kemuliaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat.

William A. Graham dalam tulisannya di Encyclopaedia of The Qur’an  mengatakan bahwa membaca kitab suci akan memberikan dampak yang berlapis. Pada fungsinya sebagai kitab yang dilafalkan (Spoken Word), al-Qur’an akan memberikan perasaan bakti dan meningkatkan kehidupan spiritual pembacanya, juga menjadikannya lebih dekat dengan Yang Maha Kuasa.

Penelitian Dr. Ahmed al-Qadhi di Klinik Besar Florida menemukan bahwa lantunan bacaan al-Qur’an dapat memberikan perubahan fisiologis yang besar pada tubuh manusia, berupa penurunan depresi dan kesedihan, meningkatnya ketenangan jiwa dan penangkalan berbagai penyakit.

Dari Universitas Padjajaran, Bandung, Dr. Andri Abdurrochman juga menemukan hasil bahwa suara bacaan al-Qur’an memiliki tingkat relaksasi paling baik dengan menstabilkan tekanan darah dan denyut jantung. Ketenangan batiniah semacam ini dapat diasumsikan sebagai bentuk kondisi psikologis yang positif, yang bisa mendorong pada peningkatan optimisme, produktivitas, dan kekuatan personal.

Dari bukti ilmiah di atas dapat diambil kesimpulan bahwa berzikir dengan al-Qur’an akan meningkatkan relaksasi lahiriah dan batiniah, menjadi salah satu pondasi untuk membangun kebiasaan yang lebih berkualitas, baik dalam ibadah maupun kehidupan secara umum, termasuk permasalahan yang kompleks dari kaum rebahan. Firman Allah dalam surah ar-Ra’d ayat 28 yang berbunyi ‘Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram’ adalah statement yang valid.

 *Baca juga esai-esai menarik di Platform Media Opini & Esai kotomono

Dapat kita katakan pula, bahwa satu langkah kecil yang kita ambil dengan menjadikan al-Qur’an sebagai pembuka jalan kebaikan, adalah wujud keberkahan itu sendiri. Satu langkah untuk bangun dari kasur kemalasan, ketidakberdayaan dan tetek bengeknya akan meringankan langkah-langkah kita berikutnya.

Momentum Ramadhan sebagai syahr al-qur’an kali ini adalah kesempatan emas untuk serius membangun atau memperbaiki keakraban kita dengan al-Qur’an. Dampaknya juga akan kembali kepada diri kita sendiri, dengan balasan kebaikan berkali-kali lipat, yang bahkan tidak bisa kita bayangkan bagaimana banyaknya. Segala puji bagi Allah yang Maha Pemurah!