6 Hal yang Perlu Kita Ketahui dalam Menuntut Ilmu

Saya sangat yakin bahwa kita pasti sudah akrab sekali dengan istilah belajar. Kita banyak menyebut berbagai hal yang kita lakukan sebagai belajar. Siapa pun, sepanjang hidupnya, pasti pernah menyebut sesuatu yang sedang dilakukannya itu adalah belajar.  

Kita sering menyebut pengalaman, suatu peristiwa yang pernah terjadi dalam hidup, baik yang menyenangkan ataupun tidak sebagai suatu proses pembelajaran hidup. Belajar itu sendiri bisa kita artikan sebagai usaha untuk memperoleh suatu kepandaian atau ilmu.

Sementara ilmu itu sendiri merupakan pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu, dan yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu dibidang tersebut. Saya rasa kita semua sepakat kalau ilmu itu sangatlah penting dan berharga.

Saking pentingnya ilmu, bahkan dikatakan lebih berharga daripada harta. Keberhargaan ilmu melebihi harta diungkapkan oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a, bahwa “Ilmu lebih berharga daripada harta karena kitalah yang menjaga harta, sedangkan ilmulah yang menjaga kita.”

Dalam hal ini mengenai ilmu pernahkah kita bertanya, adakah faktor-faktor yang mempengaruhi kita dalam mencapai ilmu? Adakah hal-hal tertentu yang membuat kita dapat mencapai ilmu atau sebaliknya?

Rupanya sepupu sekaligus menantu dan sahabat Nabi Saw, yaitu Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a telah membuat sebuah rumusan yang sebisa mungkin harus dipenuhi bagi seseorang yang ingin mendapatkan ilmu. Rumusan dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib tersebut sebagaimana dituliskan oleh Syaikh Al-Zarnuji dalam kitabnya Ta’lim Al-Muta’alim, di bawah ini:

“Ingatlah! Engkau tidak akan mendapatkan ilmu kecuali dengan memenuhi enam hal. Saya akan beritahukan keseluruhannya secara rinci, yaitu kecerdasan, kemauan yang kuat, sabar, biaya, bimbingan guru, dan waktu yang lama.”

Nah, di sini yuk kita bahas satu per satu mengenai enam hal di atas.

Kecerdasan

Kecerdasan di sini bukanlah semata-mata berwawasan luas atau berpengetahuan tinggi. Kecerdasan yang dimaksud Sayyidina Ali lebih merujuk kepada berakal sehat atau yang mampu berpikir.

Karena kita berakal sehat dan mampu berpikir, kita pun bisa mencatat, mengulang apa yang diajarkan, atau mendiskusikan kembali tentang yang telah kita pelajari. Tujuannya adalah untuk mempertajam pikiran, meningkatkan daya nalar, dan menguatkan daya ingat.

Kemauan yang Kuat

Kemauan yang kuat berarti niat atau bersungguh-sungguh. Kesungguhan menjadi salah satu syarat untuk menguasai ilmu yang sedang dipelajari.

Kemauan yang kuat bisa juga diartikan bahwa kita semangat, gigih, dan tidak malas-malasan dalam menuntut ilmu. Tanpa semangat dan kegigihan saat belajar, rasanya sulit sekali mendapatkan hasil terbaik.

Baca juga nih rekomendasi Tempat Wisata Kuliner di Solo yang Enaknya Kondang Bingits

Dalam hal ini kita pahami bahwa ilmu sulit didapat tanpa adanya kesungguhan niat, semangat, dan kegigihan dalam menuntutnya. Sebagaimana pepatah mengatakan: Man Jada wa Jadda, “Siapa bersungguh-sungguh pasti dapat.”

Kesabaran

Dalam menuntut ilmu sangat dibutuhkan kesabaran, termasuk sabar saat belajar, dan sabar dalam segala hal yang kita alami dalam proses menuntut ilmu.

Jangan karena sesuatu yang sedang dipelajari itu sulit, lantas kita berhenti untuk mempelajarinya. Bila kita berhenti mempelajarinya, jelaslah kita tidak akan benar-benar memahaminya. Ada pepatah mengatakan, “Orang yang cerdas adalah orang yang tidak akan pernah berhenti belajar.”

Sabar juga berarti kita tidak mudah marah dan mengeluh saat mempelajari suatu hal. Kita mesti ingat bahwa untuk mendapatkan sesuatu acap kali tidak semudah yang kita pikir. Kadang kala kita mendapati kesulitan dan rintangan, tetapi kesulitan dan rintangan itu harus dihadapi bukan malah dijauhi.

Karena  bersama kesulitan pasti ada kemudahan. Bersama masalah pasti juga ada solusinya. Dan karena sesungguhnya Tuhan bersama orang-orang yang sabar.

Biaya

Dalam menuntut ilmu, kita juga membutuhkan biaya. Dalam hal ini umpamanya saat kita sekolah. Walaupun mungkin masuknya gratis, SPP gratis, tapi kita masih harus membeli seragam dan buku, serta peralatan tulis lainnya.

Saat masuk perguruan tinggi pun kita masih membayar UKT (Uang Kuliah Tunggal) yang bisa sampai berjuta-juta per semesternya. Sebab itu ada ungkapan kalau ilmu itu mahal, karena biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkannya juga tidak sedikit.

Ada yang mengatakan, untuk mendapat ilmu, seseorang harus berkorban, tidak hanya harta melainkan juga waktu. Adalah Imam Al-Baihaqi yang mengatakan bahwa ”Ilmu tidak akan mungkin didapatkan kecuali dengan  meluangkan waktu.”

Bimbingan Guru

Bimbingan seorang guru menjadi hal yang sangat penting. Jika hanya mengandalkan secara otodidak semata, khawatirnya kita keliru dalam memahami sesuatu yang sedang kita pelajari.

Kita jelas membutuhkan guru, seorang yang membimbing dan mengarahkan. Kita mesti ingat bahwa kita lahir dan tidak semata-mata langsung bisa berjalan, bicara, menulis, dan membaca. Melainkan semua itu ada yang mengajarkan kepada kita baik itu oleh orang tua di rumah (sebagai guru pertama) maupun guru di sekolah.

Hubungan antara guru dan murid, tidak akan pernah terputus. Sebagian dari kita yang bahkan sudah berkeluarga mungkin masih ingat satu, dua, guru yang mengajar waktu masih sekolah dulu. Dikarenakan begitu pentingnya bimbingan guru, kita pun sering mendengar nasihat untuk selalu menghormati dan memuliakan guru.

Waktu Yang Lama

Terakhir, menuntut ilmu itu membutuhkan waktu yang relatif lama. Bukankah sejak usia belia sampai sekarang, kita masih menuntut ilmu. Dari Taman Kanak-kanak, SD, SMP, SMA, bahkan masih dilanjutkan ke S1, S2, dan seterusnya, bukankah semua itu memakan waktu lama, bisa belasan hingga puluhan tahun.

Tak bisa dipungkiri bahwa kita kerap tidak mendapatkan suatu ilmu dengan hanya sekali tangkap. Akan tetapi butuh proses dan itu jelas memerlukan waktu. Waktu yang dibutuhkan dalam menuntut ilmu ini juga sangat berkaitan dengan kesabaran saat belajar. Tentu saja hanyalah orang yang sabar yang mampu bertahan menuntut ilmu dengan waktu relatif lama.

Waktu yang lama juga bisa diartikan bahwa dalam menuntut ilmu itu tidak ada batas waktu, bahkan mungkin seumur hidup atau sepanjang usia. Mengenai batas waktu dalam menuntut ilmu ini Imam Al-Qadhi pernah ditanya: “Sampai kapan seseorang harus menuntut ilmu?” dan Beliau menjawab: ”Sampai ia meninggal dan tempat tintanya ikut tertuang ke liang kubur.”

Jadi, jelaslah bahwa menuntut ilmu itu tidak ada batas waktu, pun tidak mengenal batas usia. Demikianlah enam hal atau syarat dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a yang ada baiknya untuk kita perhatikan dalam menuntut ilmu. Semoga kita mampu memahami dan mengaplikasikan syarat-syarat di atas. Jangan pernah patah semangat. Mari kita terus belajar, meraih ilmu, dan menjadi lebih baik dari hari kemarin. 

*Baca juga esai-esai menarik di Platform Media Opini & Esai kotomono